Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mencoba untuk tetap relaks. Jangan tegang, Anda tidak sedang berhadapan dengan presiden. Orang yang tegang cenderung membuat gerakan spontan seperti menggerak-gerakan kaki, meremas tangan, dan sebagainya. Jika lawan bicara melihat Anda seperti itu bisa jadi suasana semakin kaku dan awkward.
Buka obrolan
Nggak ada salahnya memulai percakapan lebih dulu. Tanyakan hal-hal yang belum Anda ketahui tentang dia. Bisa dimulai dengan menanyakan “bagaimana hari ini?”. Lalu, lanjutkan dengan pertanyaan standar seperti lokasi rumahnya, bidang pekerjaannya, atau sekolahnya. Tanyakan dengan bahasa yang santai sehingga lawan bicara nggak merasa diinterogasi.
Jika Anda bingung ingin menanyakan hal apa kepadanya, mulailah dengan sebuah pujian. Misalnya, “Sepatu kamu keren! Beli di mana?” atau “Jam kamu lucu!”, “Baju kamu lucu! Aku nyari nggak pernah dapet”, dan sebagainya. Dengan memberi pujian, lawan bicara Anda akan merasa dihargai sehingga secara nggak langsung sudah sedikit mengikis gap.
Tanyakan interestnya
Boleh saja, sih, menanyakan lebih lanjut soal pekerjaannya, tapi akan lebih menarik jika Anda menanyakan soal interest atau hobi. Cara menanyakannya pun jangan langsung menjurus, tapi lakukan dengan memancingnya agar dia sendiri yang bercerita. Misalnya, “Kamu punya instagram? Saya lumayan suka foto-foto. Kamu suka fotografi juga?” Dengan dia bercerita akan tercipta komunikasi dua arah.
Lontarkan Humor
Humor sangat penting untuk mencairkan suasana kaku. Sesekali lontarkan candaan dalam percakapan. Catatannya, candaan harus dimengerti oleh lawan bicara Anda (bukan candaan intern), jangan terlalu jayus, ataupun mengeluarkan candaan yang kasar atau porno. Jika humor yang Anda lontarkan sampai kepada lawan bicara, dijamin suasana akrab mulai terbangun.