Dari Oktober 2015 hingga Januari 2016, ditemukan hampir 4.000 kasus bayi berkepala kecil dari normal (microcephaly) di Brasil. Angka kelainan pada bayi ini kemudian dikaitkan dengan mewabahnya virus Zika yang terjadi di Brasil pada tahun 2014. Berita yang muncul di awal tahun 2016 ini tentu saja membuat mata penduduk dunia melirik pada Brasil dan negara-negara yang diduga terdapat virus Zika. Berbagai polemik muncul, mulai dari travel advisory ke negara-negara terjangkit Zika hingga adanya larangan wanita di Amerika Selatan untuk tidak memiliki anak hingga tahun 2018. Virus Zika dianggap ancaman global oleh WHO.
“Yang membuat heboh dari virus Zika ini karena ada kaitannya dengan penyakit microcephaly yang terjadi di Brasil. Sebenarnya, penyakitnya sendiri tidak berbahaya,” kata Herawati Sudoyo, Deputy Director Lembaga Eijkman, Jakarta.
Diakui Herawati, sejak virus Zika menjadi pembicaraan di awal tahun ini, Lembaga Eijkman menjadi salah satu yang dicari media untuk menjelaskan tentang keberadaan virus ini di Indonesia. Sebenarnya sejak tahun lalu, Lembaga Eijkman telah menemukan keberadaan virus Zika di Jambi.
“Tahun 2013, sudah ada laporan tentang dua warga Australia yang baru saja kembali dari Jakarta dan Bali. Keduanya, satu pria dan satu wanita, mengalami gejala demam tinggi seperti dengue, yang setelah didiagnosis ternyata positif terkena virus Zika. Selain itu, kami juga mendeteksi keberadaan virus ini di Jambi yang diderita oleh seorang pria,” katanya.
Selama ini, yang terjadi di Indonesia, penyebaran virus Zika sifatnya sporadik, tidak mewabah di satu daerah. Sehingga, pengamatan mengenai virus ini masih terbilang minim. Selain itu, virus Zika juga dianggap sebagai selflimiting disease di mana gejala-gejala klinisnya, seperti demam dan sakit di sendi, bisa sembuh dengan sendirinya.
“Virus Zika ini tergolong virus yang memberikan gejala klinis ringan. Cukup istirahat dan minum air putih yang banyak agar terhindar dari dehidrasi, penderita akan sembuh dengan sendirinya. Jadi, selama ini penyakit ini tidak dianggap berbahaya,” jelasnya.
Awal Februari lalu, WHO (World Health Organization) menyatakan dugaan kuat adanya hubungan antara virus Zika dan microcephaly. Walaupun demikian, belum ada bukti secara ilmiah yang menjelaskan hubungan keduanya. Apa yang terjadi di Brasil merupakan kasus besar yang menjadi perhatian dan membutuhkan penyelidikan serta penelitian mendalam untuk memahami hubungan tersebut.
Tidak ingin kecolongan seperti pada kasus virus Ebola, WHO pun menyatakan virus Zika sebagai darurat kesehatan publik yang memerlukan perhatian internasional. Tujuannya tak lain agar tiap negara yang terdeteksi keberadaan virus Zika lebih waspada dan peduli akan keberadaan virus tersebut dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Selain itu, untuk mereka yang bepergian ke tempat-tempat yang terdapat virus Zika juga bisa lebih menjaga diri terhadap penularan virus ini di negara tersebut.
Meskipun bukan virus baru karena ditemukan pertama kali pada monyet di tahun 1947, informasi penelitian tentang virus Zika, diakui Herawati, memang relatif masih sedikit. Gejala klinis yang ditimbulkan virus ini dianggap tidak berbahaya sehingga membuat keberadaan virus Zika sedikit terabaikan.
Salah satu outbreak yang menjadi perhatian, menurut Herawati, adalah ketika pada tahun 2007 di Polinesia kasus guillame-barre syndrome (gangguan saraf yang bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian karena dapat melumpuhkan otot pernapasan) terdeteksi meningkat di area yang terinfeksi virus Zika. Virus ini pun mulai dianggap berdampak bagi kesehatan masyarakat.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Herawati, yang telah dilakukan oleh laboratorium Lembaga Eijkman adalah melihat karakteristik virus Zika dengan teknologi perunutan DNA. Dari data yang didapat lalu dibandingkan dengan data yang ada di genebank (Genebank berisi informasi tentang segala macam DNA mulai dari manusia, mikroorganisme, patogen, bakteri, virus, dll) ditemukan bahwa virus Zika di Indonesia termasuk dalam kelompok virus Asia, sejenis dengan virus yang ditemukan di Filipina, Polinesia, dan Brasil. Virus Zika terdiri dari dua kelompok, yaitu virus Zika Asia dan Afrika.
“Namun, minimnya data klinis dan penelitian tentang virus ini membuat kita juga belum tahu patomekanisme virus yang masih satu rumpun dengan virus dengue ini. Mengapa virus Zika di Polinesia diduga berhubungan dengan guillame-barre syndrome dan di tempat lain berkaitan dengan microcephaly? Padahal, microcephaly bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti kelainan kromosom dan tokso. Inilah yang menyebabkan virus Zika kontroversi karena semua pertanyaan itu masih belum bisa terjawab,” kata Herawati.(f)
Faunda Liswijayanti