Foto: Fotosearch
Susan Barash, penulis buku The New Wife: The Evolving Role of The American Wife, mengungkapkan, anak-anak umumnya memang menjadi fokus perhatian orang tua. Setiap perubahan dan segala aspek tumbuh kembang anak akan menyedot atensi para ibu dan ayah. Akibatnya, banyak pasangan yang lantas ’menganak-tirikan’ perkawinan mereka, baik secara sadar maupun tidak. Salah satu pihak, suami atau istri, biasanya akan mengalahkan kesenangan berdua, yang lambat laun berkembang jadi kebiasaan. Akibatnya, pihak lainnya jadi merasa terabaikan.
Advertisement
Namun, Aline mengingatkan, sebesar apa pun perhatian tersebut, jangan sampai membuat orang tua terjebak pada sikap menyayangi yang berlebihan. Apalagi jika sampai menghabiskan nyaris seluruh waktu, sehingga akhirnya menciptakan jarak antara dirinya dengan pasangan.
Keberadaan anak tidak seharusnya membuat pasangan terabaikan. Kalaupun telanjur terjadi, segera komunikasikan hal tersebut berdua. Jangan biarkan perasaan terabaikan itu terus terpendam dan berlarut-larut. Karena, bukan tidak mungkin, perasaan kecewa atau cemburu kecil bila terakumulasi bisa berubah jadi benci kepada pasangan atau anaknya sendiri.
Bicara dari hati ke hati bisa membuat masing-masing pihak mengintrospeksi diri. Ingatkan pasangan tentang makin berkurangnya kedekatan Anda berdua. Karena, sama seperti merawat bayi, perkawinan pun perlu dirawat agar dapat tumbuh dengan sehat. Di tengah kesibukan mengurus anak, suami-istri perlu pintar-pintar mencuri waktu untuk berdua dan bermesraan. Misalnya, delegasikan urusan anak kepada pengasuh, agar Anda dan pasangan bisa pergi makan malam berdua. Atau, lari pagi berdua setengah jam saja setiap akhir pekan. Sembari si kecil menikmati film favoritnya di televisi, Anda bisa menyisihkan waktu sekitar 15 menit untuk ngobrol, tentunya sebelum anak 'menginterupsi' pembicaraan Anda berdua. (f)
Topic
#MasalahPernikahan