Family
Jangan Langsung Salahkan Gizi Ketika Tinggi Badan Anak Tak Bertambah

22 Jul 2026

Deteksi dini gangguan pertumbuhan pada anak sangat penting diperhatikan orang tua. Foto ilustrasi: Pexels


Saat melihat tinggi badan anak tertinggal dibanding teman seusianya, sebagai orang tua kamu langsung berusaha menambah porsi makan, memberikan susu tinggi kalori, hingga suplemen protein. Sayangnya, langkah itu belum tentu menjadi jawaban.

Menurut Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Jakarta, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A., Subsp.End(K)., FAAP, FRCPI (Hon.), pertumbuhan anak jauh lebih kompleks dibanding sekadar urusan makanan.

“Penyebab [anak tumbuh] pendek bukan hanya stunting atau nutrisi. Bisa kelainan hormon, kelainan genetik, bahkan penyakit tertentu. Orang tua memang harus proaktif,” jelas Prof. Aman.

Yang paling penting justru bukan melihat hasil pengukuran sekali saja, melainkan memantau kurva pertumbuhan secara berkala. “Kita tidak bisa sekali ukur lalu mengatakan anak pendek atau sakit. Kurva pertumbuhan harus diikuti sejak lahir.” 


Kurva pertumbuhan yang ternyata lebih penting daripada angka 

Masih banyak orang tua yang baru merasa khawatir ketika anak tampak jauh lebih pendek dibanding teman-temannya. Padahal, dokter lebih memperhatikan pola pertumbuhan daripada angka tinggi badan saat ini.

Jika kurva tinggi badan terus menurun melewati jalur pertumbuhannya, kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut.

Sebaliknya, anak yang memang bertubuh kecil karena faktor keluarga biasanya tetap mengikuti jalur pertumbuhan yang stabil. “Kalau kurvanya makin turun, walaupun belum pendek, minta dirujuk ke dokter anak. Orang tua harus proaktif,” kata Prof. Aman.


Tidak semua anak pendek itu stunting, bisa lebih buruk

Istilah stunting sering digunakan untuk menggambarkan semua anak bertubuh pendek. Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Prof. Aman menegaskan bahwa stunting merupakan kondisi pendek akibat malnutrisi kronis atau penyakit kronis. Sementara ada anak yang pendek karena gangguan hormon, kelainan genetik, atau penyebab medis lainnya.

“Banyak sekali yang dirujuk ke saya dengan diagnosis stunting, ternyata bukan,” ujarnya.

Karena itu, memberikan makanan lebih banyak tanpa mengetahui penyebabnya justru dapat menimbulkan masalah baru. “Jangan langsung dikasih makanan tinggi kalori atau protein berlebihan. Saya banyak menemukan anak justru menjadi obesitas, pubertas lebih cepat, bahkan ada yang fungsi ginjalnya terganggu karena konsumsi protein berlebihan.”
Advertisement
 

Tidur cukup ternyata sangat berpengaruh

Selain nutrisi, hormon pertumbuhan juga dipengaruhi kualitas tidur.

Prof. Aman menjelaskan, hormon pertumbuhan diproduksi terutama saat anak memasuki fase tidur nyenyak (deep sleep). Karena itu, kebiasaan tidur larut malam tidak bisa dianggap sepele. “Tidur itu tidak bisa didiskon. Hormon pertumbuhan bekerja saat deep sleep. Kalau anak tidur terlalu malam terus-menerus, pertumbuhannya juga ikut terdampak.”

Tak kalah penting adalah aktivitas fisik dan menjaga berat badan ideal agar anak tidak mengalami obesitas yang dapat memicu gangguan hormon lainnya.
 

Jangan tunggu sampai terlambat

Gangguan hormon pertumbuhan dapat ditangani selama masih berada dalam golden period, yaitu ketika lempeng pertumbuhan tulang belum menutup.

Semakin cepat penyebab ditemukan, semakin besar peluang anak mencapai tinggi badan optimal.

“Yang penting diagnosisnya jangan terlambat. Terapi sangat bergantung pada penyebabnya, dan tidak semua anak membutuhkan hormon pertumbuhan,” kata Prof. Aman.

Di akhir paparannya, Prof. Aman mengingatkan bahwa isu tinggi badan bukan hanya persoalan medis. Anak bertubuh pendek sering mengalami perundungan, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengurungkan cita-citanya karena merasa tidak mampu bersaing.

“Pendek sekarang bukan hanya masalah medis, tetapi juga masalah sosial. Jangan sampai anak di-bully hanya karena tinggi badannya,” Prof. Aman menegaskan.

Memantau kurva pertumbuhan sejak dini, berkonsultasi jika ada penurunan, serta tidak mudah percaya mitos menjadi langkah sederhana yang dapat membantu anak memperoleh kesempatan tumbuh secara optimal. (f)

Baca juga:
Bunuh Diri Remaja Meningkat, Indonesia Sehat Jiwa Bangun Ruang Aman Sebelum Terlambat
Pilihan Baru Plester Kedap Air untuk Anak, Desainnya Playful dan Didukung Teknologi Bacterial Shield
Ibu Muda Menyusui Wajib Tahu Ini

 

Laili Damayanti


Topic

#HariAnakNasional, #ParentingIndonesia

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?