Family
Dampak Perceraian Terhadap Kehidupan Percintaan

24 Jul 2016


Foto: Fotosearch

 
Adakalanya, nih, bercerai jadi pilihan para orangtua dalam mengatasi masalah rumah tangga yang dirasa sudah menemui jalan buntu. Namun, meski alasannya demi kebaikan bersama, perceraian sering menimbulkan dampak buruk pada nak-anak mereka.

Mau nggak mau, kan, kita akhirnya harus bolak-balik antara dua rumah untuk memperoleh kasih sayang ortu. Belum lagi mesti  menerima kehadiran ortu dan saudara tiri, menghadapi pertanyaan teman sebaya, dan terpaksa mengakui kalau ortu kita sudah nggak saling mencintai lagi.

Perubahan-perubahan ini, secara khusus, bakal mempengaruhi perkembangan dan sikap si anak terhadap hubungan cinta. Supaya mudah mengatasi, yuk, kenali dampak-dampaknya.
 
Penyebab Trauma
Kecewa, shock, marah, sampai trauma berkepanjang bisa dirasakan oleh anak-anak yang ortunya bercerai. Berat ringannya dampak perceraian, menurut Dra. Reni Kusumowardhani, M.Psi, psikolog dari RSUD Cilacap, Jawa Tengah, dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama adalah dari penyebab perceraian. Ortu yang bercerai karena masalah komunikasi mungkin nggak bikin kita semarah kalau mereka selingkuh.

“Yang kedua, keterbukaan ortu dan sejauh mana mereka bisa membedakan antara masalah mereka dan hubungan dengan anak. Kadang, anak nggak tahu kalau ortunya mau cerai atau justru anak dibuat seakan-akan penyebab perpisahan.” kata Reni. Serta kematangan kepribadian yang berpengaruh pada cara menghadapi frustasinya.

Pada dasarnya, kita terikat pada ortu. Kebayang, kan, jika ortu bercerai, bagaikan separuh kepribadian kita dirobek. “Jadinya, munculnya khawatiran dan rasa tidak percaya diri bakal seperti ortu dalam memulai dan membina hubungan percintaan. Atau, bila kita marah, akan dilampiaskan melalui hubungan percintaan yang tidak sehat,” jelas Reni lagi.
 
Bayang-bayang Ortu
Masih menurut Reni, sedikit banyak, bayang-bayang kegagalan kedua ortu membina rumah tangga akan berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk menikah. Perceraian ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pernikahan tidak membawa kebahagiaan, malah kegalan seperti ortu. Perasaan trauma ini membuat seseorang malas menjalin kedekatan dengan seseorang. Kalaupun punya hubungan, lebih memilih tanpa ikatan. Misal, pacaran lama hingga hidup bersama.

Perpisahan ortu juga bikin kita yakin akan besarnya resiko punya hubungan penuh komitmen. Sampai-sampai timbul ide kalau kita juga tidak mampu menjaga hubungan yang stabil dan setia. Ditambah adanya perasaan kurang kasih sayang ortu, membuat kita  mencari-cari 'tempat' mengisi kekosongan tersebut. Inilah yang membuat seseorang bergonta-ganti pacar. Bahkan sampai terjerumus dalam pergaulan bebas.

Advertisement
Namun, ada yang memilih pernikahan buat memenuhi kebutuhan kasih sayang, tuh. Hanya saja, seringkali kehidupan rumah tangganya diwarnai rasa tegang. Pasalnya, tak mau mengalami hal yang sama dengan ortu, sehingga selalu takut ditinggalkan pasangan. Bila dipelihara, ketakutan ini membuat seseorang posesif pada pasangan.

Mudah Cerai
 Memang ada, nih, anggapan bahwa anak-anak broken home cenderung berperilaku nggak menyenangkan, bahkan kasar, ke pasangannya. “Kurangnya figur 'cinta bahagia', membuat seseorang tidak memiliki cukup referensi untuk penyelesaian konflik dalam keluarga,” ungkap Reni. Yang terjadi, perilakunya bersumber dari kondisi keluarga yang ada.
 
“Jangan heran melihat kecenderungan anak-anak korban perceraian akhirnya bercerai setelah membina rumah tangga,” ujar Reni. Bercerai dianggap cara termudah menyelesaikan masalah pernikahan bercermin dari ortunya.

Di sisi lain, perasaan takut kehilangan membuat kita bakal sayang dan setia banget sama pasangan. Kebersamaan dan keutuhan cinta bakal dijaga banget.  Soalnya, kita nggak mau bernasib sama seperti ortu. Tapi, mesti berhati-hati, nih. Jangan sampai rasa sayang ini malah berbalik menjadi sikap posesif. Bisa-bisa tetap berefek negatif dalam hubungan.
 
Terapi Trauma
Trauma akibat perceraian ortu memang nggak mudah hilang begitu saja. Tapi bukan berarti nggak bisa dikurangi kadarnya. “Trauma akibat pengalaman apapun jenisnya sebenarnya dapat dikoreksi. Artinya, setiap orang bisa beradaptasi memproses peristiwa traumatis agar tidak mengganggu kehidupannya di kemudian hari,” sebut Reni.

Untuk itu, pertimbangkan pikiran dan perasaan kita mengenai perpisahan ortu. Apalagi jika ortu berusaha meyakinkan bahwa kita nggak perlu merasa ikut bertanggung jawab atas perceraian mereka. Jangan lupa untuk tetap membina hubungan baik dengan kedua ortu. Sebab tanggung jawab mereka kepada kita dan sebaliknya tak akan terputus sampai akhir hayat apapun kondisinya.

Jangan ragu untuk menceritakan perasaan yang kita rasakan. Bisa pada keluarga terdekat atau sahabat yang kita percaya. “Bila tidak bisa mengatasi sendiri, boleh, tuh, minta bantuan ahli psikologi untuk mendampingi kita,” saran Reni. Trauma tadi dapat diringankan melalui proses terapi oleh psikolog.

Terakhir, saran Reni, tanamkan keinginan belajar dan beradaptasi dengan kehidupan yang dihadapi. “Bagi anak-anak yang mampu melepaskan stress dan menerima pengalaman perpisahan ortunya sebagai sebuah pembelajaran, akan dapat melewati masa krisisnya akibat perceraian.”
 
Jadi Gay?
Dalam beberapa kasus, ada yang menjadi penyuka sesama jenis karena dia membenci salah satu ortu yang dianggap penyebab perceraian. Namun, Reni menyatakan bahwa belum ada penelitian yang menunjukkan keadaan itu. Kalaupun terjadi, tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa perceraian mengakibatkan homoseksualitas.(f)
 
 



Topic

#dampakcerai

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?