Ronde kedua adalah inti dari presentasi ini; jenama fashion ini justru menampilkan busana pria yang tak melulu maskulin. Sesuai judulnya, estetika busana olahraga mendominasi siluet, juga kenyamanan ala seragam sekolah.
Permainan tekstur lewat tekstil luks serta fabric treatments yang inovatif menghasilkan siluet dinamis, dalam palet warna segar. Abu-abu, hijau, sentuhan merah, krem, kuning tua, biru muda, hingga hitam-putih membuat koleksi ini terlihat modern, ekspresif, sekaligus berdaya pakai tinggi.
Detail yang cukup intricate dihadirkan lewat aksen stitching, jalinan, hingga pita dan simpul dengan penempatan tak terduga.
Ronde ketiga ditutup dengan grand finale yang auto mengingatkan kita pada adegan epik pertarungan murid-murid SMA Eunyang melawan geng The Union di serial Korea Weak Hero Class 2. Bedanya, peserta tawuran tampil stylish dalam menswear kontemporer ala Danjyo Hiyoji.
Show ini sangat menghibur namun tetap meng-highlight koleksi busananya. Kita juga melihat bahwa siluet menswear yang gender-fluid seperti koleksi Athletic Rhythm tetap bisa terlihat maskulin, jika padu padan tepat dan sesuai sang pemakai.
Baca juga:
Elima Merenda Cerita untuk Gaya Perempuan Urban Aktif
Garis Waktu Kesibukan Generasi Muda di Koleksi Dear Me Beauty x Wilsen Willim
Paduan Keindahan Bunga dan Monogram di Koleksi Terbaru Benang Jarum
Zornia Harisantoso