<<< Cerita Sebelumnya
Siapa Wanita Misterius yang disebut Will dalam puisinya?
Sejak tahun 1592, penduduk kota London mulai membicarakan nama William Shakespeare.
Will menulis naskah drama berjudul Richard III untuk dipersembahkan kepada Richard Burbage, yang kemudian meraih sukses besar. Richard III adalah seorang raja yang kejam, seorang pembunuh. Namun penampilan Burbage di panggung, dengan suara lantangnya dan aktingnya yang memuaskan, meninggalkan kesan yang apik pada sang tokoh. Tak lama setelah itu seluruh London meniru penggalan dialognya yang terkenal saat kudanya terbunuh di medan perang :
A horse! A horse! My kingdom for a horse!
Berbagai kalangan datang untuk menyaksikan pertunjukannya, dan akibatnya Will mempunyai banyak teman baru. Suatu hari seusai pementasan, aku melihatnya sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda di luar Teater Rose. Pemuda itu sangat cantik, mirip seorang gadis, mungkin... tapi masih terlihat ketampanannya. Aku menanyakan perihal pemuda itu pada Will.
"Earl of Southampton," jelasnya. "Usianya baru delapan belas, tapi ia mencintai puisi dan drama."
"Bukankah dia kawan Earl of Essex?" Setiap orang tahu siapa Earl of Essex. Pemuda yang tampan, bahkan beberapa orang mengatakan bahwa Ratu Elizabeth jatuh cinta kepadanya.
Pada awalnya, aku tak tahu-menahu tentang hal itu. Sang Ratu sudah berusia 59 tahun, dan beliau seorang wanita yang sangat cerdas.
Kendati pun begitu, rumor itu ternyata benar, bahwa beliau menyukai berada di sekeliling pemuda-pemuda tampan. Earl of Essex salah satunya.
"Ya, ia kawan Earl of Essex. Tapi kukira Essex orang yang berbahaya. Henry membutuhkan teman-teman yang lebih baik darikepadanya."
"Henry, eh?" tanyaku terkejut. "Astaga! Benar kau memanggilnya Henry? Bukan Lord Southampton?"
"Hanya ketika tak ada orang selain kau, aku, dan teman-temanku, tentu." Lantas Will tertawa. "Aku hanya seorang aktor dari Stratford, Toby. Bukan orang penting. Mari kita mampir sebentar ke Boar’s Head sebelum pulang."
Will selalu begitu. Pendiam. Tidak pernah menggembar-gemborkan namanya ke semua orang.
Sesampainya di Boar’s Head, kami bertemu beberapa orang teman dan mengobrol. Kami membicarakan tentang wabah pes