Fiction
Will [1]

29 May 2012


Namaku Toby. Usiaku akan menginjak 83 tahun pada musim semi kali ini. Rumahku terletak di bilangan Stratford-Upon-Avon. Dari jendela dekat sebuah kursi kayu di mana aku berada saat ini, dapat kulihat pasar yang ramai dikunjungi orang.

Aku pernah mempunyai seorang sahabat yang sangat terkenal di Inggris. Lebih dari tiga puluh tahun lamanya aku mengenalnya. Aku pernah bekerja bersamanya di teater, melewatkan hari-hari yang menyenangkan, juga menyedihkan. Dia seorang sahabat yang baik. juga seorang dramawan, dan penyair terhebat yang pernah ada di Inggris. Namanya William Shakespeare.

Aku selalu menonton pertunjukannya. Orang-orang menyukainya. Mereka berteriak, tertawa, menangis.... Segala macam orang: raja, ratu, permaisuri, pangeran, putri, rakyat jelata,.... Will dapat menghibur mereka semua.

Dia pernah mengajakku bermain dalam salah satu drama karyanya: Twelfth Night-Malam Keduabelas, sebagai Sir Toby Belch, pria bongsor yang gemar minum-minum dan bersenang-senang. Ratu Elizabeth I menonton drama itu tanggal 6 Januari 1601.

Kini Will sudah tiada, dan tak ada seorang pun yang menyaksikan pertunjukannya. Kaum Puritan (pemeluk Protestan taat pada abad ke-16 dan ke-17 di Inggris, yang menganggap bahwa kemewahan dan kesenangan adalah dosa) telah menutup teater di seluruh Inggris. Tak ada lagi nyanyian, tarian, pementasan drama. Tidak seperti di masa mudaku dahulu.

Walau semua gigiku telah tanggal, pun tak ada sehelai rambut menutupi kepalaku, aku masih dapat mengingat jelas kenangan itu. Kenangan aku bersama Will....

Oktober 1579. Hari yang cerah saat pertama kali aku bertemu Will, di luar Stratford, di sebuah kebun apel. Seorang anak laki-laki berambut merah, kira-kira dua tahun lebih tua dariku, sedang berada di atas sebuah pohon.

"Apa yang kau lakukan di atas sana?"

"Hanya mengambil beberapa buah apel," jawabnya, tersenyum.

"Pohon-pohon ini milik Nash, si petani itu, dan dia akan segera melepas anjing-anjingnya untuk mengejarmu."

"Tuan Nash sudah berangkat ke pasar," katanya. "Kemarilah! Apel-apel ini enak sekali!"

Dan semenit kemudian aku sudah berada di atas pohon bersamanya. Tapi Will salah. Tuan Nash tidak sedang pergi ke pasar, karena beberapa saat kemudian aku melihat wajahnya yang memerah marah tersembul di atas sebuah dinding tak jauh dari situ.

Spontan Will dan aku kabur dan berlarian hingga ke tepi sungai. Di sana kami menikmati apel-apel yang telah kami petik.

Saat itu Will berusia 15 tahun. Ia tinggal di Henley Street bersama ayahnya, John Shakespeare, kakak perempuannya, Joan, serta dua adik laki-lakinya, Gilbert dan Richard. Kala itu Will tidak memberitahukan tentang adik perempuan lainnya yang telah meninggal. Dan setahun kemudian lahir lagi seorang anak laki-laki, anak bungsu keluarga Shakespeare, bernama Edmund. Lalu Will menanyakan tentang keluargaku.

"Hanya ada aku dan adik perempuanku. Orang tuaku sudah meninggal, jadi kami tinggal bersama paman dari ibuku. Ia seorang pembuat sepatu di Ely Street, dan aku bekerja untuknya. Dan kau, apa pekerjaanmu?"

"Aku belajar di sekolah Nyonya Jenkins di Church Street, setiap hari dari pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore. Kecuali hari Minggu tentunya."

Aku merasa menyesal telah menanyakan hal itu kepadanya. "Kau tidak merasa bosan?"

"Kadang-kadang. Biasanya tak ada masalah bagiku." Ia menyandarkan kedua lengannya di atas kepalanya. "Tapi kami diharuskan mempelajari karya para penulis Latin. Sedangkan yang aku inginkan adalah karya-karya modern, karya para penulis Inggris seperti Geoffrey Chaucer. Kau dapat membaca?"

"Tentu saja! Aku juga bersekolah."

Lantas Will berdiri seraya menggigit apelnya. "Aku ingin jadi penulis. Penyair. Aku ingin menjadi lebih dari segalanya di dunia."

Semenjak hari itu, kami bersahabat. Hampir tiap hari kami bertemu, dan dia selalu mengajariku tentang buku-buku yang dibacanya, tentang puisi-puisi, dan sejarah para penulis. Hidupnya tak pernah lepas dari buku.

Selepas meninggalkan bangku sekolah, Will bekerja untuk ayahnya di Henley Street. John Shakespeare adalah seorang pembuat sarung tangan. Ia juga melakukan bisnis jual-beli domba. Tapi Will tidak tertarik.

Suatu hari ia bertanya kepadaku, "Apa yang sebaiknya kita lakukan, Toby? Kita kan tidak bisa menghabiskan sisa hidup kita hanya dengan membuat sepatu dan sarung tangan!"
Advertisement

"Well... kita bisa pergi ke laut dan berlayar keliling dunia seperti Francis Drake."

Drake kembali ke Plymouth tahun 1581 setelah tiga tahun bertualang keliling dunia, tapi kami masih tetap saja di Stratford. Kami selalu menyusun berbagai rencana, tapi tak pernah terwujud.

Will masih meneruskan kegiatan membacanya dan telah menulis beberapa puisi. Terkadang dia menunjukkan puisi-puisinya kepadaku. Aku katakan kepadanya bahwa puisinya sangat bagus. Sebenarnya aku tak tahu apa-apa tentang puisi, tapi Will temanku.

Bagaimanapun Will tidak menyukai puisi-puisinya. "Aku masih harus ban