Hampir saja dia tak berhasil membawa putrinya pergi. Selama ini, gadis kecil itu diasuh oleh keluarga ibunya, menjadi kesayangan mereka. Diperlukan usaha, diplomasi, setumpuk argumentasi, hari-hari melelahkan, untuk meyakinkan keluarga mertuanya. Dalam hati Heru sudah memastikan tak akan meninggalkan Dili tanpa putrinya. Hingga akhirnya, semata-mata karena mereka sangat mengkhawatirkan keselamatannya di tengah situasi yang kian memanas dan nyaris tak terkendali itu, keluarga Hesti rela melepaskan cucu mereka, untuk pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran sang ayah.
Hari esoknya masih tanda tanya. Apakah dia akan kembali bekerja, atau sambil duduk mengkhayalkan masa lalu, yang kini serupa mimpi? Apakah dia akan menerima gaji buta, menjadi parasit tak berguna yang seharusnya memusnahkan diri sendiri? Atau, lebih buruk lagi, akhirnya menjadi salah satu di antara jutaan penganggur, tanpa penghasilan, tanpa kepastian, tanpa rasa percaya diri.
“Aku beruntung sudah mendapat penugasan lagi di sini. Banyak sekali di antara kami yang masih harus menunggu tanpa kepastian masa depan, entah sampai kapan,” Heru mengakhiri ceritanya dengan satu tarikan napas panjang. Sesaat dia memandang ke dalam dirinya, heran pada kesanggupannya menceritakan semua itu.
Di sampingnya, suara napas Ana terdengar halus menembus gemerisik batang-batang padi dan arus air yang mengalir tenang. Wanita itu tidak menyela ceritanya. Kediamannya saat menyimak kata-katanya, ketenangan sikapnya, memberi Heru keberanian untuk tidak berhenti. Lalu, dengan agak terkejut dia mendapati dirinya merasa lega. Seakan, sesuatu yang sudah sejak lama mencari-cari udara segar, tiba-tiba menemukan jalan keluar, mengalir dengan tenang dan lembut meninggalkan dirinya.
Anehnya, semua itu tidak terasa mengada-ada, atau membuatnya merasa canggung.
“Aku senang kau ditugaskan di sini,” kata Ana.
Sesungguhnya, dia ingin berkata, ”Kau telah melewati saat-saat yang berat.” Namun, karena suatu alasan yang ia sendiri tak mengetahuinya, dia merasa kata-kata itu