Tidak adil menyalahkan Soni atas keputusan yang diambilnya sendiri. Soni tak memercayai pembantu, yang tak cukup berpendidikan maupun memiliki standar tertentu dalam mengasuh anak. Jika Ana memang mau kembali kuliah, dia menghendaki Asa diasuh ibunya. Itu berarti mereka harus kembali ke rumah orang tua Soni. Jadi, Ana memutuskan memperpanjang cutinya sampai Asa cukup besar untuk diajak bepergian dan dititipkan di rumah neneknya, tanpa terlalu merepotkan.
Saat itu tak pernah datang. Karena, dua tahun kemudian Johan lahir. Ruang kuliah sudah teramat jauh, namun dia tak lagi menyesal. Dengan dua anak seperti mereka, tak ada penyesalan apa pun yang patut dirasakan. Dan lagi, jauh di sudut hatinya, dia harus mengakui, minatnya untuk meneruskan belajar sudah telanjur melembek. Sekali lagi, dia tidak menyesal gagal menjadi doktoranda dan sebagai gantinya memperoleh seorang suami dan dua anak yang manis-manis dan predikat ibu rumah tangga.
Ana menghela napas, lalu berpaling. Pria itu sedang melangkah di atas pematang, beberapa belas meter dari tempatnya berdiri. Dia tidak mendengar suara langkahnya, hanya begitu saja menoleh, seolah bisikan gaib yang tak diketahui dari mana bermula, telah memanggilnya. Sekali lagi dia menghela napas, lalu berpaling ke arah lain, agar tak dikira sengaja menunggunya. Dia tak mau Heru berpikir begitu.
“Hai.” Heru berhenti beberapa langkah darinya.
“Hai,” balas Ana. Mereka bertukar pandang, tersenyum.
“Kau mencari sesuatu?”
Ana terperanjat. “Mencari sesuatu? Ah, tidak..., tidak