Fiction
Tanggul Kali Bedog [4]

21 May 2012

<< cerita sebelumnya

Kejadian itu sudah sebelas tahun lewat, satu tahun setelah kelahiran Asa, ketika dia mengambil cuti satu semester, namun kemudian berlanjut hingga seterusnya. Saat itu dia merasa tak bisa lagi menyisihkan waktu untuk buku-buku teks dan persiapan ujian. Padahal, Soni tak pernah memintanya berhenti. Dia sendiri yang mau. Meski begitu, ada kalanya dia menuduh Soni mementingkan diri sendiri dan tak mau melihatnya jadi pintar, yaitu ketika mereka bertengkar karena satu atau lain sebab. Biasanya, setelah keributan itu, yang ditandai dengan air mata Ana dan membisunya Soni selama beberapa hari, dia akan kembali mengkaji semuanya.

Tidak adil menyalahkan Soni atas keputusan yang diambilnya sendiri. Soni tak memercayai pembantu, yang tak cukup berpendidikan maupun memiliki standar tertentu dalam mengasuh anak. Jika Ana memang mau kembali kuliah, dia menghendaki Asa diasuh ibunya. Itu berarti mereka harus kembali ke rumah orang tua Soni. Jadi, Ana memutuskan memperpanjang cutinya sampai Asa cukup besar untuk diajak bepergian dan dititipkan di rumah neneknya, tanpa terlalu merepotkan.

Saat itu tak pernah datang. Karena, dua tahun kemudian Johan lahir. Ruang kuliah sudah teramat jauh, namun dia tak lagi menyesal. Dengan dua anak seperti mereka, tak ada penyesalan apa pun yang patut dirasakan. Dan lagi, jauh di sudut hatinya, dia harus mengakui, minatnya untuk meneruskan belajar sudah telanjur melembek. Sekali lagi, dia tidak menyesal gagal menjadi doktoranda dan sebagai gantinya memperoleh seorang suami dan dua anak yang manis-manis dan predikat ibu rumah tangga.

Ana menghela napas, lalu berpaling. Pria itu sedang melangkah di atas pematang, beberapa belas meter dari tempatnya berdiri. Dia tidak mendengar suara langkahnya, hanya begitu saja menoleh, seolah bisikan gaib yang tak diketahui dari mana bermula, telah memanggilnya. Sekali lagi dia menghela napas, lalu berpaling ke arah lain, agar tak dikira sengaja menunggunya. Dia tak mau Heru berpikir begitu.

“Hai.” Heru berhenti beberapa langkah darinya.

“Hai,” balas Ana. Mereka bertukar pandang, tersenyum.

“Kau mencari sesuatu?”

Ana terperanjat. “Mencari sesuatu? Ah, tidak..., tidak