Dia sudah meninggal.
Dalam pendengaran Ana, wanita itu belum meninggal. Dia masih hidup dalam suara suaminya. Masih terus hidup dalam hati yang penuh mencintainya. Seperti itu pulakah Soni mencintainya?
Ingatan Ana melayang pada suaminya dan hal itu membuatnya menengok jam dinding. Setengah enam lewat. Mungkin, Soni pulang telat lagi.
Ana mengernyit. Dia sebetulnya berulang kali mengingatkan Soni agar tak usah memaksa diri dalam bekerja. Jangan sampai suaminya jatuh sakit karena kelelahan. Apa sebenarnya yang dikejar Soni? Toh, saat-saat sulit ketika Soni berkeras membangun rumah sendiri (dia tak suka membeli rumah dari pengembang kawasan pemukiman), menyambar setiap peluang untuk menghasilkan uang, menghemat serta memperhitungkan pengeluaran sampai ke sen-sen terakhirnya, hingga membuat Ana pulang ke rumah orang tuanya, ketika tak tahan lagi dengan ‘kekikiran’ suaminya, sudah lama berlalu.
Sekarang ini Ana bersyukur dengan semua yang mereka miliki, termasuk penghasilan tambahan dari dua usaha wartel dan pusat fotokopi dan penjilidan yang lumayan besar, serta gaji rutin suaminya sebagai pegawai negeri sipil. Yang terpenting, suami serta dua orang anak yang sangat berharga.
Tapi, pemikiran Soni lain. Dia sering mengatakan, ”Biaya pendidikan mahal. Begitu juga semua sarana penunjangnya. Jika ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak, kita tak boleh bermalas-malasan.”
Memang benar, pikir Ana, mengalah. Soni selalu berpikir jauh mengenai segala hal. Kadang, dia bersusah hati, karena merasa tak bisa membantu meringankan beban suaminya. Untungnya, jika memang bisa dibilang untung, Soni tak menginginkan bantuannya. Dia masih mampu menangani. Selain itu, katanya, Ana tak punya bakat bisnis. Terlalu murah hati. Itu memang benar. Jadi,