Perempuan itu hendak berbalik, seolah gentar oleh gamang yang memenuhi benaknya. Namun, pada saat yang sama tersadari bahwa tahun-tahun pelarian itu telah dijalani dengan sia-sia. Apakah akan terulang kembali kesia-siaan itu?
Tak ada bel pintu, maka perempuan itu mengucapkan salam sebagai penanda kedatangannya. Pintu rumah yang terbuka separuh, menandakan bahwa akan ada seseorang yang akan menerima pertamuan perempuan itu.
“Saya ingin bertemu Ibu,” sang tamu menyebutkan sebuah nama, sembari meyakinkan diri bahwa telah ditemukannya seseorang yang dicarinya.
“Ya, saya sendiri,” demikian pemilik rumah menyatakan dirinya. Matanya menyiratkan pertanyaan sekaligus keraguan, yang terasa lembut tersaput senyum.
“Maaf, apakah kita pernah bertemu? Atau barangkali keterbatasan ingatan saya yang tak mampu bekerja dengan baik?”
“Ah, sungguh bukan kesalahan ingatan kita yang mulai menua ini, melainkan benar kita belum pernah berjumpa,” demikian sang tamu menjawab keraguan tuan rumah. Begitu luwes kalimatnya, menyamarkan kekhawatiran yang membadai di dalam benak.
“Siapakah kiranya?” pemilik rumah tak membendung pertanyaan yang memenuhi diri.
Sang tamu menyatakan namanya. Saat yang sama meletakkan sehelai kain di atas meja. Terlipat rapi selendang itu, samar menampakkan motif burung merak yang menjadi coraknya.
“Saya ingin mengembalikan ini. Selendang ini milikmu,” suara penyerahan itu terdengar perlahan, namun getar yang menyertainya tampak begitu jelas.
Sesaat pemilik rumah meneliti kain itu dengan penelusuran gerak mata. Lalu menggeleng.
“Saya tidak pernah memiliki ataupun kehilangan kain serupa ini. Barangkali Anda keliru?”
“Benar kain ini tampak asing bagimu. Maafkan, seharusnya kain ini menjadi milikmu, tapi aku mengambilnya dua puluh tahun lalu dari rumah ini, kala kau tak berjaga di dalamnya.”
Tercengang perempuan pemilik rumah itu. Cengang yang sangat. Tampak jelas dari kelopak bibirnya yang bergetar, seolah menahan sesuatu. Sementara sang tamu menunduk dalam-dalam, entah demi menyembunyikan kepasrahan atau kerendahan diri pada titik paling bawah. Hening kemudian.
Entah berapa lama keheningan itu. Bahkan tak ada desau angin yang sering kali berasal dari rumpun bambu di pekarangan tetangga sebelah. Tidak pula ada kicau burung gereja yang acap kali berisik berbagi remah-remah di pelataran kebun.
Lalu ada helaan napas. Terhirup panjang untuk kemudian mengalir keluar perlahan dalam satu embusan. Sedemikian perlahan gerak itu, sama sekali tidak menunjukkan gejolak yang seolah akan terjadi.
“Oh, kaulah yang ada dalam pengakuan itu,” gumam pemilik rumah kemudian, di antara jeda napas panjang. Bernada biasa suara itu, tanpa hujatan, apalagi tuntutan.
Sang tamu menunduk makin dalam, tampak menyangga beban berat pengakuannya.
“Bagian kisah lama, tak lagi berada dalam ingatan,” gumam pemilik rumah, melanjutkan.
“Tapi, pengakuanmu ini mengembalikan ingatanku tentang sesuatu. Wastra ini bermotif Merak Kinasih, diantarkan oleh pembatiknya pada suatu hari. Aku yang menerimanya karena pembatik itu berpikir bahwa suamiku pastilah memesan kain ini demi untukku.”
Jeda sesaat. Termenung perempuan pemilik rumah itu. Keping peristiwa masa silam yang berserak, seolah perlahan bergerak mendatanginya satu per satu. Membentuk satu bayangan utuh. Demikianlah terngiang kembali padanya segala ujar santun pembatik dari masa silam itu.
“Bapak ingin dibuatkan sebuah wastra berwarna nila indigo, tanpa pilihan corak khusus,” demikian berkata pembatik itu dengan lugu sekaligus santun, sembari membentangkan sehelai kain sutra.
Beliau hanya berpesan bahwa wastra ini adalah untuk seseorang yang elok rupawan dan dikasihinya, maka hendaknya terpilih corak yang sesuai. Kupilih corak ini, Merak Kinasih karena merak melambangkan keelokan, itulah burung berbulu biru dengan kemegahan ekor yang tak tertandingi keanggunannya. Dan kinasih adalah pertanda kasih sayang. Merak rupawan yang pantas menjadi kekasih tersayang. Dalem tersanjung mendapatkan dawuh mewujudkan tanda cinta Bapak kepada Ibu.”
“Pilihan yang sungguh indah, dan pemaknaan lambang yang mulia. Pastilah wastra karyamu ini akan menjadi kenangan yang berharga bagi kami sekeluarga. Terimalah terima kasih kami kepadamu,” begitulah perempuan itu berkata ketika itu.
Terhela napas perempuan itu kemudian, terasa panjang seakan demi meredakan sesuatu yang agaknya bergolak di dalam dirinya. Atau barangkali demi menariknya kembali dari pusaran masa silam, yang seolah hendak menyergap untuk terbawa serta? Namun, perempuan itu memiliki kendali yang terjaga, bertahanlah dia dari jeratan silam itu, dan kemudian kembali utuh dalam masa kininya.
“Kuterima kain itu,” katanya, serupa gumam yang mengambang. Sepasang matanya bergerak, seakan menerawang jauh, menelusuri ulang jejak perjalanan sebuah masa.
“Namun, naluriku mengatakan bahwa sang pemesanlah yang berhak menerimanya terlebih dahulu. Bukannya aku yang seolah menerimanya melalui jalan pintas yang tak terduga. Kain ini dipesan khusus demi sebuah maksud, semestinyalah aku tidak mengabaikan hal itu. Maka kulipat dan kubungkus kembali kain itu seperti semula. Utuh kutaruh di meja, menunggu beliau datang untuk melihatnya.”
Advertisement