Rumahku terletak di ujung desa, satu-satunya jalan menuju kota terdekat. Tak ada yang terlewat dari pandanganku, tentu saja bila aku bertopang dagu di bingkai jendela seperti saat ini. Tetapi, tak semua orang dapat melihatku, tepatnya mereka tak sadar bila aku perhatikan. Karena letak rumahku agak ke atas, tepat di atas bukit kecil. Aku bebas memandang, seakan orang yang lalu-lalang dalam bingkai jendelaku adalah potret yang bergerak.
Lagi pula, tak banyak orang yang tertarik untuk menatap ke jendela rumahku. Kabar yang beredar, rumah tua ini dihuni arwah gentayangan. Perempuan yang tersesat, tak lagi hidup di dunia namun tidak juga masuk ke dunia arwah. Aku.
Orang-orang memang suka berbicara hal-hal yang tak perlu. Tak peduli perempuan atau lelaki. Mereka semua penggunjing. Aku menarik diri dari keramaian. Karena telingaku serupa wadah. Aku hanya mau menampung yang indah-indah. Nyanyian, denting dawai, tiupan angin atau puisi yang disuarakan dengan perasaan. Telingaku semacam labirin, jalan masuk ke dalam benak. Aku tak rela, benakku dipenuhi hal-hal yang tak perlu. Seperti gunjingan orang-orang.
Hujan mulai berhenti. Jalanan basah. Bau tanah meruap. Dari kejauhan tampak delman berjalan tertatih menaiki tanjakan. Kuda tua dan kusir bisu. Aku hafal benar. Telah ribuan kali mereka lalu-lalang di jalanan itu. Kusir bisu itu mengangkut sayur-mayur dan pulang dengan barang-barang yang hanya dapat ditemui di kota. Terkadang ada seorang atau beberapa orang yang menumpang pulang. Tak ada angkutan yang masuk ke desa ini. Hanya mobil omprengan atau delman seperti si kusir bisu. Orang-orang terbiasa dengan hal itu. Jalan kaki merupakan pilihan