Trending Topic
Natal, Jadi Lebih Boros?

16 Dec 2015

Apa pun bentuk cara merayakan Natal (juga tahun baru) tersebut mau tidak mau memang membuat orang lebih banyak spending. “Misalnya, di hari Natal dan tahun baru saya harus punya baju baru dan smartphone baru. Hal ini  tentu menjadi kesempatan emas bagi para pebisnis untuk meraih keuntungan berlimpah,” ujar Dr. Rudy Handoko, dosen Ilmu Bisnis Prasetiya Mulya School of Business& Economic Jakarta.

Secara teori ekonomi makro, konsumsi masyarakat di dalam negeri memang terbukti yang membuat perekonomian Indonesia stabil. Terlebih lagi, orang Indonesia gemar berbelanja, baik kalangan atas, menengah, maupun bawah. “Masyarakat Indonesia ini mudah sekali tergoda sale, harga promo, dan iklan. Meski kita bukan negara kaya,  masyarakat Indonesia punya tingkat spending yang cukup tinggi,” kata Rudy.

Berbeda dengan orang Barat yang terbilang lebih rasional saat berbelanja, orang Indonesia kalau berbelanja lebih karena dorongan emosional. “Hari biasa saja bisa kalap, apalagi hari spesial seperti Natal dan tahun baru. Bahkan, kalau lagi enggak ada uang, ya, tinggal gesek saja pakai kartu kredit. Shopping moment itu biasanya berlangsung dari 20 Desember hingga 15 Januari. Lalu, bagaimana tahun depan? Ya, cari uang lagi,” tutur Rudy.

Advertisement