Selain dengkuran, menurut dr. Andreas, hal lain yang juga perlu Anda curigai adalah jika Anda kerap merasakan kantuk yang berlebihan, meski sudah tidur dalam durasi cukup lama. Rasa kantuk ini merupakan sinyal tubuh yang menunjukkan bahwa tubuh tak mendapatkan cukup tidur. Jika kedua ciri tadi Anda rasakan, bisa jadi Anda mengalami gangguan sleep apnea.
Gawatnya, menurut British Snoring & Apnoea Association, pada sleep apnea sering kali tidak disadari oleh wanita karena wanita lebih mengkhawatirkan gejala yang lain, seperti gangguan mood, berkurangnya konsentrasi, mudah lupa, sakit kepala terutama di pagi hari, kelelahan, dan mudah emosi. Wanita juga jarang pergi ke dokter untuk mengobati dengkur, karena malu.
Ketika mendengkur, ada episode bangun dari tidur yang berlangsung singkat, namun bisa berkali-kali, dan hal ini kerap tidak disadari. Proses tidur yang terpotong-potong dan berlangsung sepanjang malam ini menyebabkan meningkatnya sistem saraf simpatis, yang berfungsi mengatur kelenjar keringat dan merangsang sekresi glukosa di hati. Sistem yang diaktifkan tubuh saat dalam kondisi stres ini mempercepat detak jantung dan menyebabkan kontraksi pembuluh darah.
Akibatnya, terjadi gangguan metabolisme yang membuat tekanan darah, denyut jantung, dan kadar gula darah meningkat. Tak mengherankan jika pendengkur yang menderita sleep apnea terancam mengalami penyakit degeneratif, seperti hipertensi, gangguan jantung, diabetes, dan stroke.
Selain itu, mendengkur juga berakibat pada kesehatan perkawinan. Karena, mendengkur tak hanya mengganggu tidur pasangan, lebih jauh lagi adalah menurunnya gairah seksual penderitanya. Tentu saja, jika berkepanjangan, hal ini bisa memengaruhi keharmonisan rumah tangga. (f)