Ditambahkan oleh Abang Edwin Syarif Agustin, konsultan media sosial, dalam komunikasi di online, apa yang disebut isyarat sosial ini memang sangat terbatas. “Problemnya saya lihat, banyak tata krama berkomunikasi yang hilang ketika di online. Hal ini bisa karena kurangnya informasi terhadap lawan bicara kita. Kita tidak tahu umurnya, background-nya, pekerjaannya apa, misalnya,” kata Bangwin, sambil menyebut hal baiknya adalah semua orang adalah setara di dunia online, yang memungkinkan seorang warga biasa bisa berkomunikasi langsung secara casual dengan kepala negara.
Advertisement
Ketiga adalah anonimitas yang tinggi. Dalam situasi online, siapa dan bagaimana karakteristik seseorang relatif lebih sulit dikenali. Memang ada orang yang mencantumkan identitas pada profilnya. “Tetapi pada saat ia berada dalam komunitas online, identitas individu menjadi tak begitu penting. Orang seperti berada di kerumunan (crowd), di mana tidak lagi ada tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab dilekatkan pada kelompok, apa pun kelompoknya,” jelas Rizka. (f)