Karena kekasih di luar kota, Anda jadi punya banyak waktu untuk berhubungan lebih intens dengan adiknya. Ini membuat perasaan cinta Anda pada kekasih jadi berubah. Duh, sebaiknya bagaimana?
Menurut Irma Makarim, kita semua bisa jatuh cinta pada siapa saja yang bisa memenuhi selera atau kebutuhan kita. Bahkan ini bisa terjadi berulang kali dalam kehidupan kita. Karena itu perlu dipikirkan dengan serius, apakah perlu membina hubungan kasih setiap kali jatuh cinta? Ini tentu membuat Anda sulit menempatkan diri, dan membuat Anda merasa berada di persimpangan jalan, karena pikiran, emosi, dan hati nurani saling bertentangan.
Memang tak ada yang bisa melarang Anda jatuh cinta. Hanya Anda yang bisa mengendalikan perasaan ini. Anda perlu merenung dengan pikiran jernih. Amati perasaan Anda terhadap kekasih dan juga adiknya. Benarkah cinta Anda pada kekasih telah memudar dan kini jatuh cinta pada adiknya? Semudah itukah Anda berpaling atau sekadar larut dalam romantisme sesaat karena kesepian. Berdasarkan ini semua barulah Anda menentukan langkah.
Advertisement
Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, perhatian Anda berubah dari kekasih ke adiknya karena frekuensi pertemuan; kondisi ini bisa saja terjadi pada siapa pun, dan gejolak emosi mungkin dirasakan tanpa disadari. Akan tetapi salah satu keunggulan kita dibandingkan mahluk lain adalah kemampuan mengendalikan diri, alias kemampuan mengendalikan pikiran, perasaan dan perbuatan. Kunci pengendalian ini adalah kesadaran diri. Ragam alasan mungkin bisa diperoleh guna membenarkan suatu tindakan, akan tetapi nurani kita tentu akan mengirimkan pesan mana yang benar dan tidak benar untuk dilakukan.
Adalah akan jauh lebih baik jika Anda lebih mengendalikan diri, mengurangi frekuensi pertemuan dengan adik kekasih dan menggunakan lebih banyak kesempatan untuk membina komunikasi dengan kekasih melalui fasilitas komunikasi yang sudah tersedia demikian banyaknya dewasa ini. Jangan terlalu menuruti gejolak perasaan sesaat, karena dampaknya memang akan kurang baik di kemudian hari. Apalagi jika sudah ada rasa cemas (takut) dalam hati Anda, tentu nurani Anda kini yang mengusik dan mencoba untuk menyadarkan diri Anda dalam bertindak secara benar. (f)