Foto: Fotosearch
Tiap tahun, sekitar 18 juta anak Indonesia putus sekolah. Menyedihkannya lagi, hanya 18% dari total murid di Indonesia yang berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang kuliah. Kenyataan pahit tersebut dibeberkan oleh praktisi pendidikan Nenny Soemawinata pada acara diskusi Meneropong Masa Depan Kaum Millennial, beberapa waktu lalu di Jakarta. Di saat yang sama, Ina Liem, pakar bidang pendidikan dan karier dari Jurusanku.com mengatakan, “Sekitar 688.000 penganggur di Indonesia adalah lulusan perguruan tinggi.” Hal ini terjadi karena keahlian yang ditekuni oleh generasi milenial di bangku perkuliahan nyatanya tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada di pasar kerja.
Fenomena yang terjadi di lapangan ini merupakan cermin dari generasi millennial Indonesia. Cukup menyedihkan dan mengkhawatirkan, apalagi menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN yang membuka pasar tenaga kerja terhadap masuknya tenaga-tenaga ahli asing dari seluruh wilayah ASEAN. Tantangan kaum penentu masa depan ini bukanlah hal yang sepele.
“Apabila pola pikir masyarakat tentang pendidikan di Indonesia tidak diubah, pada tahun 2030 sekitar 56% dari level manajerial perusahaan di Indonesia akan diisi oleh orang asing,” ungkap Ina. Selain itu, menurut Nenny, selain cerdas secara akademis, generasi millennial juga harus pandai berkomunikasi dan bersosialisasi.
Fenomena yang terjadi di lapangan ini merupakan cermin dari generasi millennial Indonesia. Cukup menyedihkan dan mengkhawatirkan, apalagi menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN yang membuka pasar tenaga kerja terhadap masuknya tenaga-tenaga ahli asing dari seluruh wilayah ASEAN. Tantangan kaum penentu masa depan ini bukanlah hal yang sepele.
“Apabila pola pikir masyarakat tentang pendidikan di Indonesia tidak diubah, pada tahun 2030 sekitar 56% dari level manajerial perusahaan di Indonesia akan diisi oleh orang asing,” ungkap Ina. Selain itu, menurut Nenny, selain cerdas secara akademis, generasi millennial juga harus pandai berkomunikasi dan bersosialisasi.
Advertisement