Foto: Fotosearch
Kenali Polanya!
Berdasarkan pengamatan psikolog Rima Olivia, banyak dari kita merasa mengalami masalah tanpa menyadari bahwa sebenarnya yang dihadapi adalah konflik.
“Padahal jika tahu polanya, akan lebih mudah bagi kita. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga saat berhubungan dengan orang lain,” kata Rima.
Pertama-tama, kita mesti mengenali dulu bahwa ada tiga macam konflik:
1/ Approach - avoidance conflict
Terjadi bila terdapat dua sisi di dalam pilihan, yaitu sisi menyenangkan dan sisi nggak menyenangkan. Misalnya, ingin beli iPad 2, tapi untuk membelinya harus berkorban tidak jajan selama dua bulan.
2/ Approach - approach conflict
Terjadi saat kita kesulitan menentukan pilihan karena dua-duanya sama menyenangkan. Misalnya, di waktu bersamaan diajak liburan oleh sahabat ke Bali, sementara ortu ngajak ke Singapura.
3/ Avoidance - avoidance conflict
Terjadi saat ada dua hal yang sama-sama nggak menyenangkan, tapi tetap harus dipilih. Misalnya, memilih antara naik TransJakarta yang nunggunya lama atau naik ojek yang helmnya bau apek.
Nah, tiga konflik ini bisa terjadi secara intrapersonal maupun interpersonal. Intrapersonal bila hanya melibatkan diri sendiri (seperti contoh di atas, bingung antara mau sarapan nasgor atau bubur ayam), sementara interpersonal bila ada orang lain yang terlibat. Misalnya, kita ingin nonton drama, tapi si dia maunya nonton action. Itu termasuk approach - avoidance conflict yang interpersonal.
“Konflik akan terasa menyulitkan bila yang dipermasalahkan merupakan hal yang bermakna banget bagi kita—biasanya jadi lebih emosional, sih,” kata Rima.
Ternyata ada lima gaya dalam menghadapi konflik, terutama yang sifatnya interpersonal. Satu gaya nggak bisa disebut lebih baik dari gaya lain, karena penggunaannya harus disesuaikan dengan situasi. Bisa jadi gaya A paling tepat digunakan dalam situasi B, sementara gaya X paling cocok untuk situasi Z. Berikut lima ‘rumusnya’: