Dok. Shutterstock
Yang menarik, ketika sosok para ratu dari penjuru Nusantara ini menduduki takhta tertinggi dalam kerajaan, tak sekadar hanya menjadi simbol pemimpin semata, mereka benar-benar berkuasa.
“Mereka terlibat dalam mengatur sistem pemerintahan, bagaimana pajak itu dibuat, mengatur pendidikan, hingga mencari solusi untuk masalah pembangunan daerah,” papar Dra. D.S. Nugrahani, M.A., dosen arkeologi dari Universitas Gadjah Mada.
Pada beberapa kasus tertentu, seperti diceritakan Nugrahani, ada juga putri mahkota yang tidak menjadi raja karena dia ‘menyerahkan’ kekuasaannya kepada suaminya, tapi mereka masih terlibat membantu mengatur jalannya kerajaan.
Sebut saja Pramodhawardhani yang beragama Buddha, menikah dengan suaminya, Rakai Pikatan, yang beragama Hindu. Kemudian mereka berdua sama-sama memerintah Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram kuno) menjadi kerajaan yang menjunjung tinggi toleransi beragama.
“Pramodhawardhani berperan besar menyatukan kedua agama menjadi setara dan selaras hidup berdampingan,” cerita Nugrahani.
Pada masa kejayaan keduanya, banyak candi Buddha dan Hindu yang dibangun secara gotong royong, seperti candi-candi di daerah Plaosan.
Di era kejayaan Kerajaan Majapahit, sosok wanita yang penting tercatat dalam sejarah adalah Gayatri. Ia adalah salah satu istri dari raja pertama Majapahit, Raden Wijaya.
Walaupun menolak untuk meneruskan takhta sang suami dan memutuskan untuk men