Fiction
Sangkar di Atas Leher [4]

25 Jan 2016

Kisah sebelumnya:
Santi, seorang penari, atas kehendak suaminya, memilih mundur dari dunia tari. Namun, ia lalu terjebak dalam perkawinan yang tidak sehat karena suaminya yang otoriter dan menghabiskan banyak waktunya mengurus burung-burung. Hati Santi yang sedang hamil muda mulai bimbang ketika rekan sesama penarinya dulu mengajaknya kembali ke panggung. Ia pun berani lepas dari larangan suaminya.


Cerita sebelumnya <<<<
Santi sempat mengira ketukan pintu di siang itu adalah kedatangan malaikat kiriman Tuhan yang ditugaskan untuk menghilangkan kutukan pada dirinya. Malaikat itu menyamar dengan meminjam wajah Ratna. Dia bilang kangen, sangat kangen. Kangen itu dimulai ketika Ratna memutuskan meninggalkan Solo dan hijrah ke Amerika demi mencari pengalaman baru.

“Selama menjadi awak di Elisa Monte Dance Company, aku selalu kepikiran dirimu. Kepikiran tentang ide yang pernah kau ucapkan dulu, mengawinkan tari-tari tradisional dengan berbagai jenis tari dari belahan dunia lain yang memiliki elemen kesamaan gerak dan penjiwaan. Hasilnya, dua tahun aku pulang, tapi aku pindah ke Jogja dan nekat mendirikan Ratna Dance Company. Tak kusangka, sambutannya ternyata luar biasa, San. Dan sebenarnya, kedatanganku ke sini bukan hanya sekadar untuk melepas kangen, tapi juga untuk mengajakmu memeluk apa yang dulu pernah mengusik malam-malam lelap kita….”

Pada bagian ini, Santi sungguh merasa amat iri. Mungkin karena malaikat memiliki sayap yang besar, sehingga tak ada sangkar yang sanggup memenjarakannya. Lagi pula, mana ada seseorang yang berani memenjarakan seorang malaikat ke dalam sangkar?
Dulu, dulu sekali, sewaktu Ratna belum memiliki sayap sebesar sekarang, sewaktu Ratna masih seekor merpati kecil dalam asuhan Om Probo, ia pernah berujar takkan mau menikah jika tak bertemu dengan lelaki yang sedia mendukung kecintaannya pada dunia tari. Saat kemudian bertemu Hendra, Santi sempat merasa telah memenangkan persaingan diam-diam di antara mereka berdua. Tapi kini, Santi merasa bagai seekor burung kecil yang patah sayap dan terjatuh tak berdaya di bumi, menatap mengiba ke arah Ratna yang tengah merentangkan sayapnya lebar-lebar di bentangan langit biru.
Santi ingin melisankan permintaan tolong, tapi lidahnya kelu. Tadi pagi, persis sebelum kadatangan malaikat berwajah Ratna ini, Santi baru saja bertengkar hebat dengan Hendra. Lelaki itu memergoki Santi yang berniat melepaskan seekor lovebird dalam sangkar kesayangannya.

Subuh buta terjaga lantaran amarah yang menyala-nyala. Semua sampah yang menumpuk dalam hati keluar meruah. Puncaknya, sebuah tamparan mendarat bebas di pipi kiri Santi. Hendra tak mau tahu apa pun alasan yang diucapkan Santi. Bahwa Santi merasa, bukanlah seekor burung yang ia bebaskan dari sangkar itu, melainkan seorang perempuan malang yang terkurung di sana. Betapa sering mata Santi mengalami keanehan ini. Bukanlah seekor burung yang ia lihat di dalam sana, melainkan seorang perempuan mungil di dalam sangkar yang sibuk melompat ke sana kemari demi mencari pintu keluar.

Riuh kicaunya berubah seperti riuh kesedihan Santi sendiri. Hendra tak mau bertanya tentang semua itu. Baginya, asal di dalam sangkar itu ada semua kebutuhan yang dibutuhkan Santi, cukuplah sudah. Berhari-hari Santi meratapi bagaimana dulu ia bisa terperangkap jaring cinta yang dibentangkan lelaki ini.

“Aku dengar kemarin kau masih menari, ya, San? Kalau kau minat, kenapa kau tak menjadi salah seorang instruktur di Ratna Dance Company saja? Kau bisa ambil bagian di tari tradisional. Agar murid-muridku bisa menjadikannya sebagai bahan perbandingan atau sumber inspirasi. Aku juga mengumpulkan beberapa teman dari Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, sebagai mitra sanggar tariku. Kami sering berdiskusi untuk menciptakan tari-tari jenis baru….”

Apakah kau tak mendengar kicau memelas dari seekor burung kecil yang berada di hadapanmu, wahai malaikat yang berwajah Ratna? Burung kecil yang terkurung dalam kepalaku sebenarnya juga ingin ikut terbang bersamamu. Tapi tentu saja, bebaskan dulu ia dari sangkar terkutuk ini….
“Ikut ya, San? Kau isi sebulan sekali juga enggak masalah. Nanti biar aku bilang ke Hendra. Oya, mana Hendra?”
“Aku… aku  enggak tahu, Rat.” Santi menunduk, menghindari mata Ratna yang ingin menelusup melihat semua yang tersimpan di dalamnya.
“Hei, kau kenapa? Kok, kelihatannya kamu seperti kurang enak badan?” Ratna bangkit, menjejeri Santi.

Ini saatnya Santi tak boleh menyiakan kesempatan ini. Malaikat ini harus tahu, ada seekor burung kecil yang terperangkap dalam kepala Santi. Ada seekor burung kecil yang ingin terbang bebas di bawah bentangan langit semesta bersamanya. Meski terkadang Santi merasa barangkali itu hanyalah halusinasinya saja, lantaran bagaimana seekor burung bisa terperangkap di dalam kepalanya?
Tapi ini kenyataan, yang terus meneror Santi saat memasak, membersihkan rumah, menonton televisi (terutama saat ia melihat para penari muda yang bermunculan di sana), dan terutama lagi saat berada di atas tempat tidur. Kicau sedih burung kecil itu memang sesekali dapat dihentikannya dengan cara-cara tertentu. Tapi kemudian muncul lagi dan riuh lagi, sedih dan menyedihkan lagi.

“Wah, saran apa, ya? Apa kau sudah pernah menceritakannya  kepada Hendra?” tanya Ratna setelah mendengar keluhan Santi.
“Aku tak pernah cerita apa pun kepadanya, Rat. Takut mengganggu saja. Lagi pula dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jarang sekali kami memiliki waktu luang bersama untuk sekadar berbagi rasa,” ucapnya, terdengar sedih.
“Lho, kamu enggak kerja, ‘kan? Kamu murni ibu rumah tangga, ‘kan? Masa iya begitu?”
Santi tak menjawab. Dialihkannya pandangan ke lain tempat. Khawatir kalau sampai Ratna tahu ada kaca-kaca yang menggenangi kedua pelupuk matanya. Tapi, bukankah yang duduk di samping Santi ini adalah malaikat yang akan membebaskannya? Santi harus menceritakan semuanya agar malaikat ini tak menunda-nunda pertolongan. Meskipun akhirnya ia harus mengakui kekalahannya atas persaingan diam-diam yang dulu terjadi antara mereka berdua.
“Jika kau kesepian, jika kau butuh teman, datang saja ke sanggarku,” lanjut Ratna, mengingatkan ajakan Palupi beberapa waktu silam yang berakhir dengan bencana itu. Bencana bagi Hendra.
“Aku tuliskan alamatnya, ya. Tapi masa,  sih, kamu enggak betah tinggal dalam istana semegah ini? Kurang apa coba? Nanti kalau sudah muncul si kecil, aku yakin, kayaknya kamu bakal mengikuti jejaknya Laras,” Ratna terus nyerocos sambil menuliskan selarik alamat pada selembar kertas.
“Tapi saranku, sih, jangan langsung total melupakan dunia tari. Biar kepala terasa enteng saja. Mungkin kau hanya kurang kegiatan saja di sini. Kenapa tak ikut arisan apa atau apa, begitu? Dengan uang suamimu, aku yakin, kau bahkan bisa merintis sebuah sanggar sepertiku,” Ratna terus dan terus mengoceh. Seolah ia lupa, bahwa dunianya sungguh beda dengan dunia Santi.
“Eh, apa kau mau menolongku?” katanya kemudian. Sebuah jeda yang menghentikan Santi dari lamunan.
“Antarkan aku keliling Jepara, yuk. Minta izin suamimu, ya. Aku ambil kau sehari untuk jadi guide-ku. Eh, tapi kalau ke Karimun apa cukup sehari, ya?”
Santi pun kemudian cerita bahwa baru beberapa hari lalu ia dan Hendra usai mengunjungi Karimun.
“Nah, kurang apa coba si Hendra itu? Lalu apa yang membuatmu gelisah seperti dalam ceritamu tadi?”
Tentu saja ada yang Santi sembunyikan dari sahabatnya itu.

*    *    *

“Tunggu sebentar!” seru Santi tiba-tiba.
Kening Ratna berkerut melihat Santi yang tiba-tiba minta turun di tengah perjalanan. Apalagi kemudian ternyata Santi hanya menghampiri seorang penjual burung yang dikerumuni oleh kaum lelaki. Cukup lama Ratna menunggu. Hingga bosan kemudian membuatnya turut keluar menghampiri Santi.
Sungguh tak percaya Ratna dengan apa yang ia dapati kemudian. Ternyata Santi tengah sengit menawar beberapa burung yang menjadi sumber kerumunan itu. Ingatan Ratna langsung kembali ke saat ia menemui Hendra di kolam lele belakang rumah sahabatnya itu. Tak ada ceria di wajah lelaki yang pernah menjadi temannya pula itu. Meskipun dia mengizinkan. Tampaknya ada masalah berat yang sedang merentangkan jarak di antara pasangan suami istri muda itu.
“San, apa yang kau lakukan?” tanya Ratna. Kelakuan aneh Santi ini benar-benar membuatnya khawatir. Buat apa sahabatnya ini menawar burung, banyak burung? Apakah perjalanan ke Karimun membutuhkan burung? Dengan gilanya Santi bahkan berani menawar dengan harga yang mengalahkan para penawar lain.
“Apa ini titipan Hendra?” Ratna tahu bahwa Hendra seorang penggemar burung fanatik.
Advertisement
Tapi, Santi masih terlihat tak peduli dengan Ratna. Orang-orang dalam kerumunan itu bahkan dibuat terpana dengan aksi Santi yang begitu heroik menawar semua burung dengan harga yang tak terjangkau oleh siapa pun. Padahal,  burung-burung itu hanyalah burung yang tak memiliki keistimewaan apa pun dan seharusnya berharga murah, macam burung jambul, kacer, emprit, maupun trucukan. Mudah didapat di persawahan maupun di hutan sekitaran desa.
Ada sepuluh burung yang akhirnya terbeli dengan harga total tiga jutaan. Membuat si penjual burung berubah jumawa dan semena-mena menawarkan harga tinggi kepada pembeli lainnya. Tapi, rasa bangganya itu terputus sejenak saat melihat kelakuan Santi kemudian.
Tanpa canggung-canggung Santi membuka pintu semua sangkar berisi burung yang telah dibelinya.
“San, apa yang kamu lakukan?” Ratna menepuk-nepuk punggung Santi. Rasa cemas mulai kentara menghiasi wajahnya. Perjalanan ke Karimun sudah terlupakan dari benaknya.
“Mereka harus bebas, Rat. Biarkan mereka menemui malaikat yang akan membatalkan kutukan-kutukan itu. Aku harus menolong perempuan-perempuan malang itu,” katanya, tanpa menoleh.
Terlihat nikmat menyaksikan burung-burung yang satu per satu dilepaskannya. Sementara orang-orang yang menyaksikan kejadian itu berdecak-decak menyayangkan perbuatan Santi. Beberapa di antara mereka ada yang coba meminta barang seekor, atau mengganti harganya, namun Santi bersikeras tak mengabulkan.
“San, kamu kenapa? Apa perlu aku panggilkan Hendra?”
“Ada urusan apa kau dengan penyihir jahat itu?” bentak Santi tiba-tiba. Membuat Ratna sempat terlonjak kaget karenanya. Ia sungguh menyesal, mengapa tadi mengajak Santi keluar. Entah masalah berat apa yang menindih dada sahabatnya ini.

*    *    *

Sudah dua malaikat yang datang mengunjungi Santi. Ia tahu, kedatangan mereka adalah untuk menghibur kesedihannya. Buktinya mereka meminjam wajah dua sahabat baiknya: Palupi dan Ratna, saat menjenguknya di dalam kamar.
“Bebaskan aku dari kutukan ini,” pinta Santi saat Palupi datang menjenguknya.
“Kau ingin menari lagi, San? Kau bisa ikut denganku,” dengan tutur lembut, Palupi coba masuk ke dalam tatapan mata Santi yang tampak kosong.
Santi menggeleng-gelengkan kepala. Ditepuk-tepuknya telinga yang diriuhi suara-suara malaikat ini ketika beradu mulut dengan penyihir jahat itu.
“Hanya menari. Apakah dalam gambyong ada gerakan yang menurutmu tak senonoh? Bukankah dokter sudah bilang penyebabnya adalah virus tokso? Sikapmu yang seperti inilah yang justru menambah beban kesedihannya,” suara malaikat berwajah Palupi.
“Dia butuh istirahat total. Apa kau tak lihat keadaannya sekarang? Lagi pula aku tak butuh uang dari menari. Aku juga mampu mencukupi semua kebutuhannya,” sahut penyihir yang Santi benci.
“Yang Santi butuhkan bukan cuma uang, Hen,” sahut malaikat berwajah Palupi lagi. Santi pikir, kenapa malaikat itu tak langsung menolongnya saja? Percuma berdebat dengan penyihir yang tak memiliki kepala. Tidakkah malaikat itu melihat bahwa di atas leher penyihir jahat itu bukanlah kepala, melainkan sebuah sangkar?
“Kenapa enggak mau? Apa kau tidak kangen dengan masa lalu kita?” suara malaikat berwajah Palupi kembali menarik Santi dari alam lamun.
Air mata Santi meleleh. Ia seekor burung kecil yang malang sekarang. Ia bukan seorang penari lagi.
“Kau masih bisa menari dengan baik, San. Jangan kau siakan kemampuanmu itu.”
Apakah itu adalah mantra pembatal kutukan penyihir jahat itu? Setelah mendengar kalimat itu, Santi merasa bukan seekor burung kecil malang lagi. Kenangan-kenangan yang entah milik siapa berkelebatan dalam kepalanya. Di dalam kepalanya ada seorang penari yang telah malang-melintang di berbagai tempat belahan dunia. Seorang penari yang selalu mengajaknya tersenyum, melupakan kutukan sang penyihir jahat.
“Aku menunggu keputusanmu. Jangan berlama-lama seperti ini, ya. Jangan dengarkan pikiran-pikiran negatif dalam kepalamu. Kalau perlu, ambil anak angkat, selesai perkara. Jangan siksa dirimu sendiri,” suara terakhir malaikat berwajah Palupi.
Dan ternyata tak semudah itu kutukan penyihir jahat dapat dibatalkan. Kadangkala Santi masih merasa bahwa ia adalah seekor burung kecil malang saat melihat lelaki yang bernama Hendra. Dialah penyihir jahat itu, yang menyihir kepala Santi menjadi sebuah sangkar, yang menyihir kepala semua orang menjadi sebuah sangkar.
Kadangkala Santi ingin mencekik leher penyihir jahat itu agar kutukannya lepas dari semua orang yang tak bersalah. Dan Santi memang pernah melakukan itu, sekali. Tapi gagal. Ia malah kemudian diikat oleh para anak buah penyihir jahat itu. Seorang malaikat lain yang menyamar dalam rupa Ratna juga dibuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
“Kenapa bisa sampai seperti ini, Hen?” mata Ratna berkaca-kaca saat melihat keadaan Santi. Terakhir kali saat meninggalkan sahabatnya ini memang sudah terlihat gejala. Namun ia sama sekali tak mengira bakal sampai seperti itu.
“Apa? RSJ?” pekik Ratna saat mendengar cerita Hendra. Bahwa Santi pernah berubah liar, menghancurkan semua sangkar yang ia miliki, menghancurkan semua perabot rumah yang dipikirnya berisi burung terkurung, bahkan pernah hampir membunuh Hendra.
“Aku mengenalkan kalian bukanlah untuk saling menyakiti!” Ratna meradang. Bagaimana hatinya tak teracuni amarah? Dulu, dialah yang menjadi penghubung antara Hendra dengan Santi. Hendra adalah teman satu kampusnya di UGM. Mereka bertemu  usai Om Probo memenuhi undangan UGM dalam sebuah festival budaya bertaraf internasional.
“Silakan kau menikah lagi jika tujuanmu memang hanya anak semata. Tapi takkan kuizinkan kau memperlakukannya seperti ini.”
Ratna mendekati Santi dengan selaksa kesedihan tak terjabar. Ia sempat tak percaya saat ibunda Santi datang kepadanya dan menceritakan semua kekacauan ini. Bayangan seperti inilah yang dulu sempat membuat Ratna menjauhi kata pernikahan. Ia takut dengan cinta yang kemudian berubah menjadi peti mati bagi kehidupannya sendiri, perlahan membunuh dan mengubur hidup-hidup semua cita-cita dan gairah hidupnya. Laras adalah contoh nyata baginya. Itulah mengapa sampai detik ini ia belum mau menikah, bahkan sekadar untuk mencari pasangan.
Tapi, meski sedikit alergi dengan pernikahan, tentu saja ia tak menginginkan salah seorang sahabat baiknya mengalami hal yang seperti ini.
“Aku akan membawanya ke tempatku. Aku memiliki murid yang seorang psikolog. Meski aku tak bisa menjamin kesembuhannya. Sekarang semuanya terserah kepadamu. Menikah lagi, silakan. Atau kau mau membantuku memulihkan keadaannya. Apakah tujuanmu menikah hanya demi memenuhi hasratmu sendiri?”
Ratna menitikkan air mata. Tak yakin ia air mata itu untuk apa. Apakah untuk simpatinya kepada Santi? Ataukah untuk kebenarannya meyakini bahwa pernikahan hanyalah semacam penjara, meski ia tak yakin sepenuhnya dengan hal ini. Kenyataannya, toh, ada banyak pasangan yang terlihat bahagia meski ia sadar pernikahan telah mengubur cita-cita dan sebagian jiwanya. Laras lagi-lagi menjadi contoh nyata baginya. Ataukah mungkin ini hanya soal beruntung atau tidak beruntung saja?

*    *    *

“Aku akan mengajarimu menari lagi. Agar kau bisa terbang bersamaku. Ke Eropa, Amerika, Cina, bahkan segenap penjuru dunia.”
“Benarkah? Tapi bulu-buluku sudah rontok. Lihatlah, sayapku tak lagi lebat bulunya. Bagaimana bisa?”
“Bisa. Percaya saja  padaku. Percaya saja pada keyakinanmu. Percayailah juga kemampuanmu.”
Santi mengangguk. Meski ia merasa sedikit aneh saat melihat wajah malaikat penyelamatnya itu. Kenapa dia menitikkan air mata? Apakah malaikat juga bisa bersedih? Musibah apa kiranya yang mampu membuat malaikat menangis?  (Tamat)

***
Adi Zam Zam






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?