Foto: Pixabay
Malnutrisi pada anak terjadi karena banyak faktor. Bukan hanya karena kemiskinan yang menjadi faktor utama, tetapi juga penyebaran informasi kesehatan yang tidak merata dan belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal inilah yang menjadi fokus dari Diskusi Publik Memperingati Hari Anak Nasional 2017 yang berlangsung di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, pada Senin (7/8).
Menurut hasil penelitian terbaru Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia, penyebaran informasi hoax terbanyak pada awal tahun ini adalah informasi di bidang kesehatan. Jika dibiarkan, penyebaran informasi tersebut bisa berdampak buruk pada kesehatan, terutama kesehatan anak-anak yang kerap menonton televisi tanpa pengawasan orangtua.
Baca juga:
4 Informasi Hoax Seputar Kesehatan
Cukupkah UU ITE Menjadi Solusi Penyebaran Hoax dan Hate Speech?
Salah satu media yang perlu diwaspadai adalah iklan atau promosi produk pangan dengan informasi tidak tepat. Visualisasi yang menarik dan frekuensi tayangan iklan yang cukup sering bisa membuat anak-anak tertarik untuk mengonsumsi produk makanan atau minuman tersebut, apalagi jika orangtua kurang memiliki pemahaman tentang produk tersebut. Seperti iklan susu kental manis. Produk itu dikenalkan sebagai susu lewat iklan televisi.
"Padahal kalau kita baca kandungan nutrisi di kemasannya, susu kental manis itu bukan susu karena kandungan gulanya sangat tinggi dan tidak ada kandungan vitaminnya. Produk itu lebih tepat dikenalkan sebagai sirop rasa susu,” ungkap Yuli Supriati, salah satu peserta diskusi yang mewakili Dewan Kesehatan Rakyat.
Menurut pemerhati iklan dan ketua Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia, dr. Winny G.W., iklan biasanya dirancang untuk lebih berpihak pada produk karena di dalam iklan tentu terdapat kepentingan dari beberapa industri.
Menurut hasil penelitian terbaru Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia, penyebaran informasi hoax terbanyak pada awal tahun ini adalah informasi di bidang kesehatan. Jika dibiarkan, penyebaran informasi tersebut bisa berdampak buruk pada kesehatan, terutama kesehatan anak-anak yang kerap menonton televisi tanpa pengawasan orangtua.
Baca juga:
4 Informasi Hoax Seputar Kesehatan
Cukupkah UU ITE Menjadi Solusi Penyebaran Hoax dan Hate Speech?
Salah satu media yang perlu diwaspadai adalah iklan atau promosi produk pangan dengan informasi tidak tepat. Visualisasi yang menarik dan frekuensi tayangan iklan yang cukup sering bisa membuat anak-anak tertarik untuk mengonsumsi produk makanan atau minuman tersebut, apalagi jika orangtua kurang memiliki pemahaman tentang produk tersebut. Seperti iklan susu kental manis. Produk itu dikenalkan sebagai susu lewat iklan televisi.
"Padahal kalau kita baca kandungan nutrisi di kemasannya, susu kental manis itu bukan susu karena kandungan gulanya sangat tinggi dan tidak ada kandungan vitaminnya. Produk itu lebih tepat dikenalkan sebagai sirop rasa susu,” ungkap Yuli Supriati, salah satu peserta diskusi yang mewakili Dewan Kesehatan Rakyat.
Menurut pemerhati iklan dan ketua Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia, dr. Winny G.W., iklan biasanya dirancang untuk lebih berpihak pada produk karena di dalam iklan tentu terdapat kepentingan dari beberapa industri.